Kremlin Siaga atas Klaim Trump Terhadap Greenland

Peta Wilayah Greenland

JALAFILES, Kremlin – Hubungan diplomatik Rusia dan Amerika Serikat bakal terus meruncing pada tahun-tahun mendatang.

Setelah ketegangan terjadi yang melibatkan dua negara adidaya itu pada perang Ukraina, kini Kremlin mengambil siaga atas rencana presiden terpilih AS Donald Trump mencaplok Greenland dari Denmark.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, Rusia memantau situasi secara serius usai Trump menolak mengesampingkan terbukanya aksi militer untuk mengambil wilayah yang terletak di antara samudera Arktik dan Atlantik itu.

Peskov menegaskan Arktik berada dalam lingkup kepentingan nasional dan strategis Rusia dan negaranya menginginkan perdamaian dan stabilitas di sana.

Pernyataan kontroversi Trump tentang Greenland telah menuai peringatan dari para pemimpin Eropa.

“Kita harus menghormati integritas teritorial dan kedaulatan Greenland”, ujar kepala urusan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas.

Pernyataan keras juga dilayangkan pejabat Jerman Olaf Scholz dengan menjelaskan bahwa status wilayah tidak boleh dipindahkan lewat kekerasan.

Sebelumnya, awal minggu ini, Trump mengatakan bahwa AS membutuhkan Greenland dan Terusan Panama untuk keamanan ekonomi, dan menolak untuk mengesampingkan kemungkinan menggunakan kekuatan ekonomi atau militer untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Trump berdalih, bahwa Denmark dan juga Kanada merupakan sekutu dekat AS di NATO. Namun, Peskov mengingatkan Trump bahwa zona Arktik harus berada dalam kondisi kondusif.

“Kami hadir di zona Arktik, dan kami akan terus hadir di sana,” katanya.

Sika keras Kremlin dapat dipahami mengingat wilayah yang dihuni sekitar 56.000 orang itu merupakan rumah bagi pangkalan militer AS dan Denmark.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berusaha meredakan ketegangan atas pernyataan Trump selama kunjungannya ke Paris.

“Itu jelas bukan ide yang bagus, tetapi mungkin yang lebih penting, ide itu jelas tidak akan terwujud”, sindirnya.

Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy juga tidak menanggapi serius pernyataan Trump, meski ia mengakui pernyataan itu bisa memicu instabilitas.

Dikutip dari CNBC, ambisi Trump mencaplok Greenland sangat terkait persaingan negaranya dengan China dalam mempertahankan kontrol atas deposit mineral di sana.

Dalam upaya itu, pejabat AS dan Denmark tahun lalu melobi pengembang deposit di Greenland agar tidak menjual proyeknya kepada perusahaan yang terafiliasi dengan China.

Greg Barnes, CEO Tanbreez Mining, menyatakan kepada Reuters bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan rutin dengan Washington terkait opsi pendanaan untuk mengembangkan mineral di pulau tersebut.

Greg Barnes mengungkapkan bahwa AS melakukan tekanan melalui pejabatnya yang mengunjungi proyek di selatan Greenland dua kali tahun lalu, dan berkali-kali menyampaikan pesan kepada Tanbreez Mining yang sedang mengalami kesulitan keuangan agar tidak menjual deposit besar tersebut kepada pembeli yang terkait dengan Beijing.

“Kami menghadapi banyak tekanan untuk tidak menjual ke China,” kata Tony Sage, CEO Critical Metals yang telah mengakuisisi Tanbreez Mining, kepada Reuters, Jumat (10/1/2025).

Tanbreez Mining sendiri diketahui memiliki hak konsesi penambangan di wilayah Greenland dan berencana menambang 500.000 metrik ton mineral eudialyte yang mengandung tanah jarang setiap tahunnya mulai 2026.

Terkait dengan isu tersebut, belum ada informasi pejabat berkompeten Beijing memberikan tanggapan. (Fad)