Ironi Bangsa Religi Menyikapi Bencana Bangsa Lain(Perenungan Terhadap Tragedi Bencana di Los Angeles).

Kebakaran di LA adalah bencana alam terburuk dalam sejarah AS

*Oleh Dr. Saifudin Zuhri, M.Si

Kebakaran di Los Angeles (LA) Amerika Serikat (AS) menjadi tragedi paling menghancurkan di sepanjang sejarah negeri Paman Sam itu. Kebakaran itu telah memakan korban jiwa yang terus bertambah, meluluhlantakkan ribuan rumah, dan menghanguskan ribuan hektar semak-semak dan hutan di sekitar kota terbesar kedua di AS setelah kota New York.

LA yang menjadi ikon kota metropolitan penuh gemerlap, kemewahan, dan begitu populer itu seakan tak berdaya menghadapi amukan si jago merah walau pemadam kebakaran dan segenap sumberdaya pemerintah AS dikerahkan untuk menaklukkannya. Konon akibat tragedi ini kerugian material yang diderita hingga mencapai 1.000 trilyun lebih.

Melihat eskalasi kehancuran yang begitu massif muncul sejumlah pertanyaan; apa sesungguhnya penyebab kebakaran paling menghancurkan itu? Insight dan makna apa yang semestinya muncul dari tragedi tersebut? Bagaimana persepsi dan narasi yang berkembang di kalangan masyarakat dunia, khususnya bangsa Indonesia?

Berdasarkan analisis ilmiah kebakaran di LA disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah dampak lanjutan dari global warming, badai angin, vegetasi, dan perilaku manusia. Fenomena global warming telah menaikkan suhu bumi secara signifikan, bahkan tercatat 2024 adalah tahun dengan suhu terpanas yang pernah terjadi di Amerika sehingga dilanda kekeringan panjang.

Fenomena inilah yang mengkondisikan api menjadi mudah tersulut. Titik api yang muncul diperparah oleh terpaan badai angin Santa Ana yang menerjang wilayah LA sehingga kobaran api cepat menyebar dan eskalatif. Kondisi tanah dan jenis tumbuhan menjadi media yang memudahkan api menjalar kemana-mana. Lagi-lagi ulah manusia baik secara individual, seperti gaya hidup, maupun kebijakan publik tentang tata kelola pemukiman dan penggunaan lahan menjadi faktor signifikan munculnya tragedi yang harus ditanggung manusia itu sendiri.

Dari tragedi kebakaran yang begitu menghancurkan itu terdapat beberapa insight atau semacam hikmah yang bisa dipetik, di antaranya:

1) Menumbuhkan empati kemanusiaan. Tragedi ini mestinya menyatukan umat manusia dalam satu rasa sebagai manusia. Apapun penyebab musibah tersebut tak ada seorangpun menghendakinya, namun ketika sebuah musibah itu menimpa, apalagi memakan korban jiwa dan menghancurkan peradaban selazimnya melahirkan rasa empati solidaritas sebagai sesama manusia tanpa melihat ras, bangsa, negara, agama, etnis, dll.

2) Mendorong penelitian untuk menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi terbarukan. Walaupun Amerika tak disangkal sebagai negara maju dengan kemajuan di bidang Iptek yang begitu canggih namun tragedi ini tetap saja mengejutkan dan membuat tak berdaya kecanggihan teknologi yang selama ini dibanggakan itu. Keganasan alam melampaui kemampuan teknologi untuk mengatasinya. Namun manusia tidak boleh menyerah apalagi putus asa, kelebihan ilmu pengetahuan jika dibandingkan dengan keyakinan dogma agama dan mitologi adalah kemampuannya untuk berkembang dan diperbaharui terus menerus. Berbeda dengan dogma agama dan mitologi yang membeku dalam anggapan mutlak pemeluknya, ilmu pengetahuan memiliki postulat untuk merevisi dirinya sendiri dengan temuan-temuan baru berdasar siklus dialektika terus menerus antara tesa, anti-tesa, sintesa.

Bangsa yang memiliki paradigma ilmu pengetahuan akan menjadikan musibah justru sebagai pemicu ditemukannya teknologi terbarukan supaya bisa mengantisipasinya di kemudian hari. Lihatlah bagaimana Jepang sebagai negara yang berada di cincin api dan rawan gempa menemukan alat seismograf untuk meminimalisir korban jiwa dan kerugian material.

Demikian halnya bagaimana Israel dan China yang memiliki lahan tandus padang pasir yang begitu luas dijawab dengan rekayasa teknologi pertanian hingga berhasil menyulap menjadi lahan subur yang produktif. Itu semua karena bangsa-bangsa tersebut melihat bencana sebagai realitas alamiah yang justru harus dijawab dengan ilmu pengetahuan dan kerja keras. Belajar dari tragedi kebakaran destruktif LA ini diyakini akan melahirkan berbagai study sebagai sumber ditemukannya iptek terbarukan.

Yang mengherankan dan sekaligus memprihatinkan adalah di tengah duka atas tragedi bencana kebakaran LA itu muncul berbagai persepsi dan narasi yang tidak obyektif, tidak produktif, dan tidak sportif. Alih-alih bencana itu menjadi pembelajaran yang menghasilkan insight dan hikmah positif sebagaimana dijelaskan di atas, terdapat sebagian cara pandang bangsa ini yang notabene berparadigma sempit keagamaan justru menarasikan tragedi kebakaran LA sebagai karma, hukuman, adzab, dan sejumlah penilaian negatif lainnya terhadap AS atas kebijakan di berbagai negara muslim di dunia, seperti Palestina, Irak, Afghanistan, Syiria, dll.

Di berbagai platform media sosial komunitas sempit itu menarasikan kebakaran di LA sebagai balasan atas penyerangan terhadap warga Gaza Palestina, balasan pernyataan Donald Trump yang akan membakar Timur Tengah, perwujudan ultimatum seorang demonstran yang menyatakan bahwa LA akan kena musibah karena banyak maksiat, dll.

Entah kebetulan atau memang terkorelasi anggapan tersebut, namun dari perspektif ilmiah narasi tersebut sulit ditemukan premis yang mengkorelasikan untuk membangun sebuah simpulan obyektif. Narasi-narasi sumir dan bernada negatif itu dikonstruksi dari cara pandang subyektif untuk kepentingan kelompok ideologisnya yang dengan gegabah mengabaikan fakta-fakta empirik di lapangan.

Penyebaran narasi itu mungkin bisa membangun persepsi publik, namun jika dilihat lebih jauh area publik terpengaruh hanya sebatas komunitas yang memiliki frekuensi dan preferensi ideologis yang hampir identik. Atau dengan kata lain narasi itu hanya untuk konsumsi mansturbasi kelompok sejenis, sementara dunia global yang lebih luas tak begitu bergeming. Dalam pada itu narasi subyektif itu juga tidak menghasilkan apa-apa kecuali narasi kebencian itu sendiri. Alih-alih berkonstribusi memberi bantuan atau sekedar menunjukkan rasa empati terhadap korban, sebaliknya justru narasi itu menyakitkan dan tidak berperikemanusiaan. Rasa kebencian itu juga menutup diri mereka dari pembelajaran untuk mendapatkan nilai produktif, sebagaimana halnya temuan iptek terbarukan yang dijelaskan di atas.

Terlepas bahwa dunia Barat, terutama AS sebagai polisi dunia acapkali menggunakan standar ganda dalam memberlakukan kebijakan terhadap negara-negara lain, namun dalam konteks tragedi kemanusiaan harus dijunjung tinggi sikap sportifitas. Jika dibandingkan dalam menghadapi tragedi tsunami Aceh negara-negara Baratlah yang justru memberi bantuan paling signifikan tanpa melihat aspek ras, etnis, bangsa, dan agama korban bencana.

Sebagaimana laporan The Associated Press yang dirilis pada tanggal 31/12/2004 bahwa Inggris menjadi donatur terbesar untuk bencana Tsunami Aceh, yakni sebesar US$ 96 juta. Kemudian diikuti Swedia dengan US$ 75,5 juta, Spanyol US$ 68 juta, Cina US$ 63,2 juta, dan Perancis US4 57 juta. Pemerintah Amerika Serikat sendiri kala itu juga memberi bantuan sebesar US$ 35 juta dan ditambah dari Palang Merah Amerika Serikat sebesar US$ 3,5 juta. Sementara negara-negara Timur Tengah yang notabene beragama Islam jumlah bantuannya jauh di bawah negara-negara Barat, China, dan Jepang.

Ironisnya balasan yang diberikan bangsa ini tidak setimpal secara materi dan sungguh tidak sportif secara kemanusiaan. Di kala mereka tertimpa bencana justru dihakimi dengan narasi keji sebagai karma, hukuman, dan adzab. Jika tidak mampu membantu dan tidak menunjukkan rasa empati, minimal janganlah menyakiti perasaan para korban yang sedang menderita dengan menyebarkan narasi kebencian yang tidak berperikemanusiaan.

*Penulis adalah Peneliti dan Pendidik di Yogyakarta