*Oleh Dr. Saifudin Zuhri, M.Si
Dunia menyaksikan bagaimana kerasnya persaingan antara dua negara super power dunia saat ini, Amerika Serikat dan Tiongkok memasuki babak baru setelah sebelumnya terlibat dalam perang dagang hingga berimplikasi pada pergeseran geopolitik dunia.
Persaingan babak baru itu adalah produk teknologi yang bernama Artificial Intelligence (AI), yakni kecerdasan buatan yang bukan hanya berfungsi sebagai mesin pengumpul data, informasi dan bisa diajak berinteraksi, namun juga mampu memecahkan masalah yang jauh lebih cepat daripada otak manusia itu sendiri.
Belum lama warga net begitu familier dengan penggunaan chatGPT, salah satu jenis aplikasi AI paling ngetren buatan Amerika Serikat (AS), sudah disusul jenis aplikasi AI terbaru hasil inovasi dari Tiongkok yang bernama DeepSeek.
AI made in negara tirai bambu ini diklaim memiliki sejumlah keunggulan daripada chatGPT, seperti lebih cepat, lebih murah dan bahkan bersifat open-source. Tak pelak sejumlah keunggulan DeepSeek tersebut menghantam telak reputasi chatGPT dan sejumlah produk aplikasi AI buatan AS. Efek domino kemunculan DeepSeek seketika mampu merontokkan pasar saham teknologi buatan negeri Paman Sam itu.
DeepSeek bukanlah produk teknologi satu-satunya dari Tiongkok yang mampu menyalip dominasi negara-negara barat, khususnya AS, sejak dari alat perang, transportasi, komunikasi, elektronik, hingga perabotan rumah tangga.
Kebangkitan produk teknologi Tiongkok ini seakan menggugurkan mitos selama ini bahwa peradaban modern berada di genggaman dunia barat. Setidaknya terdapat dua ciri khas produk teknologi Tiongkok yang menjadi kunci kemenangan dalam menghadapi perang dagang dengan AS, yakni harga yang jauh lebih murah dan lebih progresif.
Keunggulan produk-produk Tiongkok hari ini adalah hasil reformasi yang dicetuskan oleh mendiang bapak pembangunan Tiongkok, Deng Xiaoping. Dalam salah satu pidato Deng Xiaoping yang terkenal itu mengatakan bahwa bagi Tiongkok “tidak penting kucing itu berwarna hitam, kuning, atau abu-abu, yang penting bisa menangkap tikus”.
Ungkapan itu menandai reformasi sistem ekonomi negeri tirai bambu menjadi lebih terbuka. Walaupun sistem politiknya tetap berhaluan komunis namun di bidang ekonomi mengalami liberalisasi pasar. Perpaduan antara sistem politik yang tertutup dan terkontrol oleh partai tunggal, yakni Partai Komunis Tiongkok di satu sisi, dan liberalisasi pasar di sisi lain, inilah yang menjadi faktor harga lebih murah namun lebih inovatif.
Dalam pada itu progresivitas teknologi buatan Tiongkok juga didukung oleh ekosistem di hampir semua lini, seperti kebijakan pemerintah, motivasi dan budaya kerja masyarakat Tiongkok, mata rantai produksi, sistem distribusi, strategi pemasaran, dan lain sebagainya. Ekosistem sejak dari hulu hingga hilir itulah yang membuat Tiongkok mampu memenangi di berbagai front perang dagang dengan negeri Paman Sam.
Dalam menghadapi fenomena yang mengejutkan ini sudah barang tentu AS yang sekarang dinakhodai Donald Trump tak akan tinggal diam. Teknologi ruang angkasa dan derivasinya yang selama ini didominasi AS tentu tak serta merta diserahkan begitu saja ke pesaing dagangnya itu. Donald Trump yang temperamental dan provokatif itu sejak disumpah sebagai Presiden AS langsung menabuh genderang perang kepada siapapun untuk memproteksi kepentingan negaranya. Suhu panas persaingan ini tentu akan memutar berbagai upaya keras dari masing-masing negara adidaya dunia itu untuk menemukan teknologi terbarukan yang lebih memukau dan kompetitif.
Sementara di belahan dunia lain, di negeri tercinta Indonesia raya, negara yang ada di lintasan garis khatulistiwa, beriklim tropis, bertanah subur, dengan jumlah populasi penduduk terbesar keempat di dunia ini hanya menonton dan menunggu untuk dimangsa para predator kapitalis dunia sebagai konsumen paling hedon dan latah.
Ironisnya dalam posisinya sebagai negara konsumen yang sumber dayanya dieksploitir itu justru merayakannya penuh suka cita. Sungguh nestapa.
*Penulis adalah Peneliti dan Pendidik di Yogyakarta.
















