JALAFILES, Palu – Ruang walikota Palu, Kantor Walikota Palu jalan Balaikota, senyap membisu. Riuh suara yang sebelumnya hadir, mendadak hilang ditelan keheningan.
Sesak dalam ruangan itu yang hadir, namun tak seorang bersuara, lirih sekalipun. Suasana seketika menjadi khidmat penuh haru. Nyaris semua pandangan tertuju pada sosok yang mengenakan setelan jas PDU warna putih. Ia adalah Hadianto Rasyid, Walikota Palu terpilih yang baru saja rampung menjalani masa retret di Magelang, yang tengah didaulat berbicara dalam ruangan.
Hadianto terisak, kala menyampaikan ucapan terimakasih pada perempuan lanjut usia berkerudung kuning yang paling ia muliakan, hadir disitu duduk bersebelahan dengan sang menantu, Dyah Puspita, yang juga merupakan istri Hadianto.
Dicobanya untuk terus berbicara, namun tenggorokannya tercekat karena menahan tangis. Ia kuatkan dirinya agar bisa mengontrol emosi. Tapi, airmata begitu sulit dibendung. Tampaknya kenangan perjuangan bersama ibunda di masa lampau amat kuat hadir dalam ingatan. Kenangan yang mungkin berat dan perih dilalui.
“Dan tidak lupa kepada yang saya cintai dan muliakan, orangtua saya….,” lirihnya dengan terbata lalu terdiam tak bisa melanjutkan.
Para undangan yang hadir dalam ruangan mengikuti prosesi penyambutan pun turut larut dalam keharuan. Semuanya diam dalam khidmat. Wakil walikota Palu, Imelda Liliana Muhidin tak kuasa menahan tangis. Berulangkali tisu dalam genggaman diusapkan pada matanya.
Tentu, kita bisa menyimpulkan, betapapun kenangan itu mungkin membawa kepedihan, namun tangis Hadi di ruang kerjanya itu adalah airmata sukacita atas manisnya buah perjuangan.
Hadianto memang dikenal sangat dekat dengan ibundanya. Namanya Hj. Muzria. Dari tangan dan didikannya Hadi dibesarkan. Pada kontestasi pilwalkot periode sebelumnya, sang ibunda turut andil memberikan support yang besar kepada Hadi. Saat itu, diakhir kemenangan, Hadi menjumpai sekaligus mencium kaki ibunya sebagai tanda rasa syukur.
Puaji Muzo, begitu biasa Hj. Muzria disapa, adalah perempuan yang banyak menghabiskan umur di kampung Taipa (sekarang kelurahan Taipa). Ayah puaji Muzo, Tompo, memang berasal dari sana, sementara ibunya, Dae Sangia, memiliki darah bangsawan Palu yang berdiam di kampung Lere – Baru (sekarang kelurahan Lere dan kelurahan Baru).
Puaji Muzo menikah dengan Rasyid (H.A. Rasyid) yang terhitung masih kerabat dari jalur ibu, Dae Sangia.
Dalam silsilah Magau Palu Lamakaraka, atau yang lebih dikenal sebagai silsilah Kampung Lere, tulisan Hj. Intjelao Palimuri, Hj. Daelima Palimuri dan Hj. Zaitun Marjun Tombolotutu, dijelaskan bahwa Ayah dan Ibu Hadianto, H.A. Rasyid dan Hj. Muzria, memiliki cilawagi (urutan pertama dalam silsilah keluarga) yang sama yakni Suralemba.
Suralemba merupakan anak pertama dari Magau Palu Lamakaraka. Suralemba memiliki adik bernama Djojokodi dan Panundu. Keturunan Suralemba banyak bermukim di Kelurahan Lere dan Kelurahan Taipa. Sementara, Djojokodi di Kelurahan Baru dan Panundu di Biromaru.
Cerita tentang kebenaran dua mantan gubernur Sulteng, Longki Djanggola dan Rusdi Mastura, memiliki kekerabatan dengan Hadianto Rasyid itu dikuatkan oleh silsilah Kampung Lere ini. (Fad)
















