Merancang Bangun Ulang Negara Ala Gen Z : Membaca Fenomena Demonstrasi Gen Z di Indonesia dan Nepal

Oleh Dr. Saifudin Zuhri*

Huru-hara demonstrasi yang terjadi di Indonesia baru-baru ini menginspirasi gerakan sosial di berbagai negara. Nepal negara berpenduduk 30 juta yang berada di kaki gunung Himalaya pun membara. Pejabat dan aparatur negara dipaksa mundur dan menyerah pada amuk massa. Sejumlah gedung musnah dilalap si jago merah dan puluhan nyawa melayang menjadi taruhannya.

Anak-anak muda, terutama generasi zelenial (Gen Z) dalam sekejap meluluhlantakkan apa saja dan menuntut reformasi di berbagai sendi kehidupan bernegara. Aksi brutal Gen Z itu merupakan puncak kekecewaan terhadap kinerja pejabat negaranya yang korup dan ignoren dengan realitas kehidupan warga negaranya.

Realitas hidup warga masyarakat Nepal yang miskin, sakit-sakitan, dan susah mencari lapangan pekerjaan kontras dengan gaya hidup pejabatnya yang mewah, glamour, dan hedon. Disparitas realitas hidup yang mencolok itu diamplifikasi oleh media sosial ketika para pejabat dan keluarganya flexing di media sosial. Gen Z yang begitu intens bermedia sosial menyaksikan perbedaan nasib hidup yang mencolok itu dipertontonkan di hadapan mereka.

Dengung media sosial yang mampu menyebarkan informasi begitu cepat, mudah, dan massif mengkonstruksi persepsi publik menjadi kian reaktif dan spontan. Peran para buzzer dan influenzer semakin mengglorifikasi bahkan yang bersifat disinformasi sekalipun dengan memanfaatkan rumus algoritma yang mampu melipatgandakan gema informasi sehingga sulit dibendung siapa saja, bahkan oleh institusi negara sekalipun.

Di tengah rambatan dengung media sosial inilah pemerintah Nepal mencoba mengendalikan informasi dengan cara menutup beberapa platform media sosial. Langkah penguasa Nepal ini berujung fatal. Langkah itu justru memicu kemarahan Gen Z. Publik yang tidak lagi trust dengan pemerintah, disparitas nasib kehidupan warga, dan penutupan media sosial terakumulasi menjadi energi massa yang menyasar apa saja, mulai dari fasilitas publik hingga rumah pribadi petinggi negara.

Fenomena aksi massa Gen Z dalam merespon sistem kekuasaan yang mengatur hidupnya mulai bermunculan di berbagai negara. Bermula dari Indonesia menjalar di beberapa negara, seperti Nepal, Peru, Filipina, Jepang, dan mungkin akan terus meluas. Fenomena tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar, seperti mengapa Gen Z apatis dengan kekuasaan negara dan bahkan ignoren? Apa makna kehadiran negara bagi Gen Z? Bagaimana memahami perilaku Gen Z dalam merespon persoalan sosial politik negaranya?

Gen Z atau Zoomer adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini bertumbuh kembang di era digital, dengan akses luas ke teknologi, internet, dan media sosial. Gen Z memiliki karakteristik unik, seperti digital native yang meningkatkan intensi dan literasi teknologi digital dan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Generasi inilah yang paling dominan memanfaatkan dunia digital untuk pengembangan kreativitas dan inovasi. Walaupun intensi di dunia maya begitu tinggi, namun di sisi lain Gen Z juga memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan politik.

Dilihat dari era kelahirannya Gen Z memiliki rentang waktu yang jauh dengan sejarah terbentuknya nation-state terutama di negara-negara jajahan. Pasca Perang Dunia II (1939-1945) banyak negara baru terlahir, terutama di wilayah bekas jajahan negara-negara maju, seperti di kawasan Asia dan Afrika. Proses berdirinya negara di kawasan tersebut dibidani oleh generasi yang disebut dengan “The Greatest Generation” (meminjam konteks Amerika Serikat).

Sebagai generasi yang hidup selama Depresi Besar dan Perang Dunia II membentuk karakter generasi yang berdaya tahan dan penuh pengorbanan. “The Greatest Generation” merupakan subyek utama dan terlibat langsung dalam rancang bangun negaranya. Merekalah peletak dasar konsep nasionalisme dan patriotisme di negaranya masing-masing dan berperan penting dalam membentuk sejarah dunia pada abad ke-20.

Berbeda halnya dengan dunia Gen Z. Generasi ini tidak terlibat langsung dalam pendirian negara. Dari rata-rata tahun kemerdekaan negara-negara yang dijajah di benua Asia dan Afrika, Gen Z diperantarai tiga generasi sebelumnya, yakni Generasi Baby Boomer (lahir 1946-1964), Generasi X (lahir 1965-1980), dan Generasi Y atau Gen Millennials (lahir 1981-1996). Dilihat dari rentang waktu tersebut jelas Gen Z adalah generasi yang tak terlibat sama sekali dengan proses kelahiran negaranya.

Kesadaran nasionalisme Gen Z tidak dibentuk dari proses keterlibatan langsung pendirian negara, namun lebih bersifat imaginer dan simbolik. Imaginasi nasionalisme diintrodusir dari ideologisasi negara. Dalam cara pandang Gen Z nasionalisme konservatif bukanlah realitas namun lebih sebagai persepsi dan narasi tafsir. Pergeseran inilah yang menjadikan konsep tentang nasionalisme hanyalah diskursus yang sah untuk diperdebatkan dan bahkan disangkal.

Oleh karena itu nasionalisme pada era sekarang ini, termasuk di dalamnya makna kehadiran negara, lebih sebagai persoalan transformasi nilai antar generasi. Sebuah negara membutuhkan adanya akselerasi nilai nasionalisme antar generasi untuk mempertahankan keutuhannya. Jika transformasi dan akselerasi itu gagal maka sebuah negara berada dalam jurang disintegrasi, gagal, dan bahkan bubar.

Transformasi dan akselerasi nasionalisme dari generasi ke generasi ditentukan dua faktor, yaitu; pertama, proses sosialisasi atau penanaman nilai nasionalisme pada generasi penerusnya. Proses ini diperankan oleh berbagai stake holders ideologisasi negara, seperti lembaga pendidikan melalui civic education, bela negara, dan kegiatan apapun yang berorientasi pada penanaman kesadaran nasionalisme.

Kedua, sejauhmana utilitas kehadiran negara bagi kehidupan warganya. Negara sebagai manifestasi rasa nasionalisme akan diukur apakah kehadirannya mampu memberi manfaat bagi perikehidupan warganya seperti, memberi perlindungan, kesejahteraan, dan keadilan sosial.

Jika kehadiran negara berhasil mewujudkan nilai-nilai tersebut maka generasi kapanpun akan mempertahankan eksistensi negaranya, dengan menjaga sistem bernegara, menaati hukum, dan menghormati pemimpin negaranya. Sebaliknya, jika negara gagal mewujudkannya maka sebuah generasi akan mencari makna baru nasionalisme yang direkonstruksi ulang sebagai cara untuk menegaskan bahwa dirinyalah subyek dan masa depan negaranya.

Dari kedua faktor tersebut nasib nasionalisme konservatif sebuah negara dipertaruhkan. Gen Z yang hidup di era kini adalah tuan bagi zamannya. Dengan segala karakter khasnya tentu memiliki perspektif yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Nasionalisme yang oleh generasi penciptanya diagungkan sebagai ideologi tertinggi mengalami desakralisasi dalam alam pikir Gen Z.

Oleh karena itu tidaklah mengejutkan jika simbul-simbul nasionalisme disamakan dengan simbul-simbul pop culture ala Gen Z, pengibaran bendera One Piece pada momen HUT RI ke-80 dan sekarang juga muncul dalam gerakan massa di Nepal adalah representasi fenomena dimaksud.

Elit politik yang bergelimang harta kontras dengan realitas masyarakat pada umumnya yang diliputi kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial terpampang di depan mata. Ulah para elit dan keluarganya yang gemar flexing kemewahan di media sosial seakan mencabik-cabik rasa keadilan yang sengaja dipertontonkan di tengah kecemasan Gen Z menghadapi masa depan yang serba tidak pasti.

Realitas kontradiktif ini membangun persepsi publik bahwa negara telah gagal mewujudkan tujuannya, yakni memberi perlindungan, kesejahteraan, dan keadilan sosial kepada segenap tumpah darah warga negaranya. Keberadaan negara seakan tak berguna, dan ketika kekecewaan itu memuncak menyulut kemarahan Gen Z menghancurkan apa saja yang telah dibangun oleh negara itu sendiri.

Kita semua belum tahu pasti apakah fenomena ini pertanda bahwa generasi kini sedang memaknai ulang apa itu negara sebagai upaya menjadi subyek dalam sistem sosialnya, atau sejarah sedang mencari formula sistem sosial baru yang menjadi alternatif atas kegagalan negara.

Di tengah puing-puing kehancuran infrastruktur publik dan tebusan nyawa, Gen Z mencoba merancang bangun ulang sistem sosialnya untuk memastikan bahwa dirinyalah subyek utama dan penentu masa depannya sendiri. Sejarah akan mencatat apakah tragedi semua ini akan mengantarkan Gen Z menjadi subyek yang sesungguhnya dalam rekonstruksi sistem sosialnya, atau hanya menjadi pecundang. Entahlah.

  • Penulis adalah dosen dan peneliti tinggal di Yogyakarta.