Daerah  

Anggota DPRD Palu Dorong Pelestarian Dokar sebagai Warisan Budaya

Anggota DPRD Kota Palu Andris. Foto : Ist.

JALAFILES, Palu – Anggota DPRD Kota Palu Andris mendorong pemerintah dan masyarakat agar terlibat secara serius dalam upaya melestarikan keberadaan Dokar (Bendi) di jalanan kota Palu.

Andris merasa miris, kendaraan tradisional khas masyarakat Kaili tersebut eksistensinya kini hampir punah di wilayah Palu. Ia sangat menyayangkan bila hal itu terjadi, karena bagaimanapun Dokar merupakan bagian dari identitas budaya Kaili yang telah diwariskan secara temurun.

Olehnya, ia berinisiatif mengusulkan pengadaan 5 unit dokar dan 6 ekor kuda untuk ditempatkan di beberapa titik lokasi wisata serta budaya di Kecamatan Palu Selatan dan Tatanga. Pilihan untuk menempatkan Dokar hadir di spot wisata, menurutnya, sekaligus mengenalkan moda transportasi itu kepada wisatawan. Andris berharap usulannya bisa didukung penuh pemerintah.

“Dokar ini bukan sekadar alat transportasi. Ini bagian dari identitas budaya kita. Sayang sekali kalau dibiarkan hilang begitu saja,” ujar Andris dalam kegiatan resesnya di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga.

Sebagai putra asli Kaili, Andris mengaku prihatin karena Dokar kini hampir tidak terlihat lagi di Kota Palu. Padahal, alat transportasi tradisional ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Ia menyebut, sebagian besar Dokar yang masih ada justru berasal dari daerah lain seperti Gorontalo.

Andris berkisah, dimasa kecilnya, Dokar menjadi moda vital masyarakat dalam kegiatan angkutan orang dan barang. Jalanan dan halaman rumah warga nyaris diisi dengan pemandangan Dokar.

“Dulu di Kampung Tengah, hampir setiap rumah punya Dokar. Tapi sekarang benar-benar hilang. Saya pikir, ini waktunya kita hidupkan lagi,” ujarnya penuh semangat.

Dikatakan, usulan pengadaan Dokar beserta kuda penariknya bukan berasal dari anggaran pokok-pokok pikiran (Pokir) miliknya sebagai anggota dewan, melainkan melalui koordinasi dan pendekatan langsung dengan Pemerintah Kota Palu. Ia menyebut usulan tersebut sudah mendapat persetujuan prinsip dari pemkot.

“Saya usulkan langsung ke Pemkot di luar dari Pokir saya. Nilainya sekitar Rp 300 juta. Dokar dan kuda ini tetap akan menjadi aset milik pemerintah,” urainya.

Andris menyampaikan bahwa dokar bisa diintegrasikan ke dalam kegiatan wisata, car free day, serta event tahunan Pemkot Palu seperti pawai budaya dan HUT Kota Palu.

“Di Jogja kita lihat bagaimana Andong menjadi daya tarik wisata. Palu juga bisa seperti itu. Tinggal bagaimana kita mengelola dengan baik,” ujarnya.

“Saya berharap setiap perayaan kota, Dokar bisa kembali hadir. Walaupun tidak sebanyak dulu, tapi masyarakat tetap bisa melihat dan merasakannya,” ujarnya.

Menurutnya, dari segi alat transportasi Dokar lebih terjangkau dan mudah dioperasikan masyarakat, dibandingkan kuda pacu yang harganya bisa mencapai Rp 80 juta per ekor. Dokar juga dinilai punya nilai sosial dan sejarah yang kuat.

“Kalau kuda pacu, yang bisa ikut hanya yang punya modal. Tapi kalau Dokar, masyarakat bisa ikut mengelola, dan itu jauh lebih berdaya,” ucap Andris.

Andris berharap upaya pelestarian ini direspons serius oleh masyarakat dan pemerintah. Ia menyebut bahwa tantangan utama bukan hanya dari sisi biaya, melainkan dari perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin tergantung pada moda transportasi bermesin.

“Sekarang tinggal bagaimana kita bangun kesadaran bersama. Saya yakin kalau dikelola serius, Dokar punya masa depan lagi di Kota Palu,” pungkasnya. (Fad)