Lahan Tani Alami Kekeringan, Warga Kawatuna Gelar Tradisi Poraa Binangga

Prosesi Mompakuni Binangga, melarung darah ternak sembelihan di sungai

JALAFILES, Palu – Warga Kelurahan Kawatuna menggelar upacara adat Poraa Binangga di aliran sungai Uwetumbu, Kelurahan Kawatuna, pada Rabu (19/2/2025) pagi, menyusul sulitnya mengairi lahan pertanian milik masyarakat, khususnya masyarakat yang kesehariannya bercocok tanam di kaki gunung Kawatuna, akibat rendahnya debit air sungai.

Upacara Poraa Binangga merupakan tradisi melarung darah ternak di sungai dengan tujuan meminta kepada penguasa agar debit air sungai melimpah. Harapannya, dengan air sungai yang melimpah, pasokan air untuk pertanian tercukupi.

Menurut anggota dewan adat Kawatuna, H. Suandi, upacara Poraa Binangga adalah budaya yang telah lama hadir pada masyarakat Kaili Topo Tara dan diwariskan secara turun temurun.

“Sejarahnya memang wilayah Kawatuna ini termasuk daerah yang sulit air. Jadi ceritanya, Tomanuru yang menjadi awal manusia hadir bermukim disini itu bikin upacara Poraa Binangga,” bebernya.

Dikatakan Suandi, di masa lalu, para orangtua secara konsisten melaksanakan upacara Poraa Binangga nyaris setiap tahun.

“Kalau dulu setiap tahun, sudah menjadi agenda tahunan. Mau kekurangan air atau tidak tetap dilaksanakan,” terangnya.

Namun, kegiatan ini sempat terhenti saat bencana gempa, tsunami dan likuifaksi melanda Palu. Poraa Binangga tahun 2025 adalah kali pertama sejak 2017, itupun setelah sejumlah warga mendesak mengingat lahan pertanian berpotensi gagal panen akibat kurangnya suplai air.

“Kalau kami ini kan hanya pelaksana adat. Kalau masyarakat meminta ya kami laksanakan. Tapi kalau masyarakat tidak meminta, kami juga tidak. Sebab kami juga harus paham bahwa era sekarang ini kan era modern,” imbuh Suandi.

Menurutnya, tradisi Poraa Binangga sudah berlangsung sejak zaman sebelum kemerdekaan, bahkan nenek moyang masyarakat setempat masih menganut aliran kepercayaan. Karena itu, katanya, dalam menggelar kegiatan tersebut perlu mempertimbangkan kaidah-kaidah dalam agama, khususnya Islam yang kini banyak dianut oleh masyarakat Kawatuna, termasuk juga pandangan dalam kajian ilmu pengetahuan modern.

Dikatakan Suandi, prosesi Poraa Binangga sendiri terdiri atas tiga tahap, yakni Mbenau, Mompoura dan Mompakuni Binangga. Dalam rangkaian prosesi itu terselip kegiatan ziarah sekaligus siram kubur para leluhur.

“Mbenau maknanya kita memohon izin dan restu kepada penguasa Barat dan penguasa Timur bahwa kita akan melakukan upacara. Mompoura artinya mengembalikan dari musim Timur ke musim Barat dan sebaliknya, sehingga kondisi iklim menjadi normal. Lalu Mompakuni Binangga adalah puncak, disitu kita pamit sama kuala (sungai) bahwa kita melaksanakan adat sembelih ternak (kambing dan ayam) yang darahnya dilarung di sungai,” terangnya.

Saat darah ternak sembelihan larung dalam aliran sungai, air sungai segera diguyurkan oleh pengurus adat kepada orang-orang yang telah ditentukan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang merupakan keturunan para manusia yang dimandikan sejak pertama tradisi ini hadir.

Dikesempatan yang sama Plt. Lurah Kawatuna, Mita Niaresvy Fazela, menyebut kendati kegiatan Pora Binangga adalah hajatan masyarakat Kawatuna, namun sejumlah tokoh adat dan warga kelurahan terdekat juga ikut hadir dan berpartisipasi.

“Tidak hanya Kawatuna, tapi tokoh adat dan masyarakat Lasoani, Poboya, Tanamodindi, Birobuli dan Sigi-Biromaru juga ikut hadir,” ujar Lurah srikandi muda ini.

Mita, yang sebelumnya menjabat Kepala Seksi Pemerintahan di Kelurahan yang sama, mengatakan bahwa baru tahun ini kegiatan dipusatkan di salah satu rumah warga, di Uwetumbu. Sebelumnya, setiap tahun kegiatan Poraa Binangga dilaksanakan di Bantaya, di jalan Poinayo Kawatuna.

Dibagian lain, Sekretaris Kelurahan Kawatuna, Aksad H. Wahid, menyatakan bahwa Pemerintah Kota Palu, lewat kantor Kelurahan Kawatuna, mendukung penuh aktivitas adat apapun yang diselenggarakan oleh masyarakat sepanjang aktivitas itu tidak bertolakbelakang dengan ketentuan dan aturan.

Menurut Aksad, nilai-nilai adat dan adab warisan leluhur banyak memuat kearifan lokal yang menonjolkan keluhuran moral dan etika. Baginya, melestarikan keluhuran budaya timur menjadi salah satu cara membentengi generasi muda dari dekadensi moral akibat serbuan budaya luar dimana era kini begitu mudahnya mengakses segala bentuk informasi lewat teknologi informatika. (Fad)