Tanah Airku Indonesia: Kejayaan ataukah Keruntuhan ?

Oleh : Fadli Baharudin*

Sejarah pernah mencatat seseorang, yang menetap di wilayah gurun pasir seluas 9,5 juta kilometer persegi, menggenggam kekayaan fantastis. Lebih kaya dari juragan Tesla atau SpaceX, Elon Musk, maniak minyak Rockefeller, atau mungkin dedengkot industri perbankan keluarga Rothschild.

Tak usah pula bandingkan dengan kekayaan pendiri Barito Pacific, Prajogo Pangestu, yang bahkan untuk disandingkan dengan Elon saja bagai memperbandingkan Ebenezer Place tinggi 2 meter versus Burj Khalifa yang tingginya kurang sedikit 1 kilometer.

Duit Elon itu nyaris menyentuh Rp. 6.500 triliun, atau setara Rp. 6,5 kuadriliun. Kuadriliun bro, bukan milyar, apalagi juta. Nadoyo !

Menghitung duit segila itu banyaknya, sama seperti menguras air laut di selat Makassar. Maka, cukup bayangkan. Bayangkan hal indah apa saja sejauh benak Anda bisa lakukan dan inginkan, dan kekayaan itu bisa membayarnya.

Bayangkan hal itu di waktu Anda tengah syahdu jongkok di kakus sembari menyumpal mulut pakai rokok. Sebab, ritual kakus itu adalah momen paling khusyuk berselancar dalam dunia khayalan. Di mode kakus, otak gampang mengigau, dari punya bini artis sampai punya aset di Beverly Hills. Jadi, menghitung duit Elon sambil berkhayal memilikinya paling pas di momen itu.

Begini.
Waktu itu Elon belum lahir. Jadi ceritanya di abad ke-14, orang gurun yang kaya itu hidup. Namanya Mansa Musa. Beliau ini, meski berkulit gelap (navuri koa), tapi punya kedudukan tinggi dan terhormat. Bukan hanya terhormat, tapi memiliki kemewahan tanpa tanding. Super tajir. Elon saja dia libas. Perkara navuri koa itu soal gampang, bisa dipoles asal ada cuan. Toh, ini bukan soal navuri, tapi soal hidup harus berdiri tegak. Tidak bengkok, apalagi loyo, apalagi impo….

Menggantikan sang kakak Mansa Abu Bakar, Mansa Musa melenggang ke kursi penguasa Mali, Afrika Barat, di usia 32 tahun. Dari sini hampir bisa ditebak, kira-kira dari mana sumber kekayaannya.

Ya, Musa adalah Mansa (Raja) kesepuluh kekaisaran Mali. Di masa itu cadangan mineral emas Mali yang melimpah dikelola secara tepat oleh penguasa. Dan Musa adalah penguasanya.

Beruntung Musa lahir di tempat dan era yang jauh dari praktik demokrasi. Belum ada Mahkamah Konstitusi, KPU, Bawaslu, juga debat kandidat. Maka, tak ada gaduh soal estafet dinasti kepemimpinan ke dirinya.

Konon, saking tajir melintirnya, saat melakukan perjalanan haji Musa memboyong 60.000 rakyatnya ikut serta. Selama 3 bulan singgah di Kairo, Musa membuat ekonomi Mesir lumpuh hampir satu dekade lantaran emas yang ia hambur di kota itu membuat inflasi meroket ke Mars. Nadoyo.

Di zaman Musa, Mali berada di puncak kejayaan. Rakyatnya makmur, hidup bahagia berkecukupan.

Namun, itu dulu. Dan kita akhiri untuk mengulasnya.

Kini Mali tercatat sebagai salah satu negara di Afrika yang paling miskin. Negara dengan cadangan emas besar itu terperosok dalam krisis pangan berkepanjangan. Sedikitpun tak tersisa bayang-bayang kemakmuran.

Cerita tragis Mali tak sendiri. Zaire, juga negara di Afrika yang kini berganti nama menjadi Republik Demokratik Kongo, serta Venezuela adalah penggalan cerita yang sama. Memiliki sumber kekayaan alam mineral, logam berharga dan cadangan minyak melimpah, namun tak ayal membuat negara itu terjerumus ke dalam kubangan lumpur kemiskinan.

Mali, Zaire juga Venezuela (MZV), mungkin memiliki sejarah yang berbeda. Namun, satu kesamaannya yakni negara kaya yang bangkrut akibat krisis politik yang tak ada ujung. Perebutan kekuasaan dan korupsi skala masif, permisif secara cara bar-bar adalah potret forensik jawaban terhadap bagaimana negara-negara tersebut terperangkap dalam kemerosotan multidimensi.

MZV adalah jejak peristiwa. Sebuah arsip dokumenter untuk dijadikan semacam pedoman evaluasi dan sikap mawas diri, bagaimana semestinya negara dikelola. Simplificate, namun tetap tepat guna dan bernas.

Banyak negara mengambil hikmah dan iktibar atas sejarah tragis MZV. Singapura, Jepang, Korsel, Finlandia, Denmark adalah diantaranya. Negara-negara tersebut sukses membina “rumah tangga” hingga negaranya memiliki ketahanan ekonomi yang prima, meski tak diwarisi kekayaan alam yang cukup.

Namun, tidak sedikit pula negara yang tetap keukeuh pada kedunguannya dan tutup mata terhadap sinyal bahaya dari tragedi MZV yang bakal berujung pada malapetaka itu.

Satu di antaranya adalah Indonesia. Indonesia adalah negara analog MZV, nyaris segala sisi. Serba melimpah, namun pejabatnya tamak dan rakyatnya melacurkan diri.

Bahkan, dalam sebuah percakapan di film Holliwood, untuk menyebut maksud dari sinonim pembual digunakan kata Indonesia. Artinya, Indonesia adalah simbol kebobrokan dengan stigma manusia pembual. Betapa skala moral Indonesia jauh di bawah ambang batas. Tidak usah protes, apalagi menggugat. Terima saja, seperti Anda menerima korupsi bukan lagi aib, tapi prestasi.

MZV dulu adalah Indonesia kini dan sedang menuju ke arah MZV sekarang.

Mencengangkan. Di Indonesia perilaku nista itu bagi yang menyuarakan kebenaran. Dan mereka ini jumlahnya amat sangat sedikit. Makanya, ketika mereka disumpah-serapahi, diburu, ditangkap, lalu dijebloskan ke bui, sama sekali tanpa perlawanan.

Di Indonesia, manusia jenius, punya penemuan brilian dikucilkan, disubordinasi, dibuang sampai akhirnya minggat dan mentereng di negara lain. Apa yang mereka ciptakan bukan karena tak bernilai, tapi lebih karena mengganggu kemapanan perilaku licik para pesohor negeri.

Di Indonesia, martabat dan harga diri diobral dengan diskon besar-besaran, murah banget, paling mahal Rp. 500 ribu persatu suara.

Korupsi di Cina, pelakunya ditangkap lalu dikirim ke alam baka. Di Indonesia korupsi senilai Rp. 984 triliun sekadar heboh seminggu. Seminggu itu, penegak hukum sibuk bikin atraksi seremonial penangkapan. Habis itu ya habis, tanpa keterangan tanpa kejelasan tanpa ending. Senyap. Dan negara buang muka, mengunci mulut.

Seminggu kemudian muncul berita yang sama, korupsi, heboh. Seminggu berikutnya berita korupsi, heboh. Seminggu berselang korupsi lagi, heboh. Sampai akhirnya tak lagi diberitakan, meski giat korupsi tetap berlanjut. Beritanya tak lagi menarik lantaran sudah jadi hal rutin.

Lantas, dibuatkanlah liga untuk mengakomodir hobi para koruptor. Di puncak klasemen tim PT. Pertamina bertengger kokoh dengan mengumpulkan poin 984 triliun. Disusul kejar mengejar PT. Timah (300 triliun), tim BLBI (138 triliun), PT. Duta Palma (78 triliun), PT. TPPI (37,8 triliun), PT. Asabri (22,7 triliun), PT. Jiwasraya (16,8 triliun), Izin Ekspor Minya Sawit (12 triliun), Pesawat CRJ-1000 dan ATR 72-600 (9,73 triliun) serta Proyek BTS 4G (8 triliun).

Itu duit semua Ojo ?!? Bukan, beras kencur ! Ya duitlah ! Nadoyo iko Ojo.

Untuk liga korupsi divisi 2 dan 3, tidak ditampilkan lantaran nilainya “hanya” dikisaran ratusan milyar.

Di bagian lain, para pesohor yang gemar bersolek dan tampil glamor di panggung fantasi, mengalami kebuntuan nurani namun sensi perasaan. Jangankan kritik, diingatkan saja reaksi ngamuknya luar biasa. Persis putri kecil yang menjerit-jerit kala mainannya dirapikan. Manja-manja bikin muak.

Sudahlah hobi korupsi, hobi pula marah-marah. Segala hal untuknya harus di shaf depan. Seolah-olah seluruh predikat mulia yang dibeli dari uang korupsi dan dengan cara culas pantang untuk dinodai.

Sedikit saja diluruskan malah merasa dizalimi, merasa diteror, merasa dirusak nama baiknya dan merasa paling patut dikasihani. Ujung-ujungnya, membayar rekan sekoruptor-nya bertindak. Pasal yang dikenakan pencemaran nama baik. Padahal, jangankan nama, jiwa dan raganya pun sudah seutuhnya tercemar.

Setali tiga uang adalah rakyatnya. Entah karena tolol atau memang mengidap tunagrahita sejak lahir, selalu saja jatuh pada lubang yang sama, berulang-ulang, berpuluh tahun.

Hari ini dikibuli. Besok dibohongi. Lusa ditipu. 7 hari dalam seminggu dijalani dari satu dusta ke dusta lainnya. Sadar dirinya tertipu, cuma begitu selembar kertas merah bergambar Soekarno-Hatta menghujam kantong, kesadaran tiba-tiba anjlok. Begitu mudahnya terbius. Dibodohi lagi, sadar lagi, jual diri lagi. Begitulah siklusnya.

Herannya, sudahlah tolol untuk terus dikadali, masih pula petantang-petenteng membusung dada merasa paling hebat, paling pintar, paling benar dan paling jago.

Betapapun gamblang cermin mamantulkan skandal dan konspirasi kejahatan, masih juga dianggap sebagai hal lumrah, baik-baik saja. Lebih gilanya, ada yang justru memuja-muja disertai pengagungan seolah subyek kejahatan adalah pahlawan penyelamat rakyat dan bangsa. Entahlah, itu bentuk munafik yang menjilat atau penjilat yang munafik.

Maka, lengkaplah sudah Indonesia sebagai kandidat pewaris MZV. Dan kala atmosfer sedemikian itu tetap dipelihara untuk terus menggerogoti, tinggal tunggulah malapetaka dan tragedi itu hadir.

Tentu, kesempatan masih terbuka untuk menghindar. Tak ada cara dan jalan kecuali satu, berubah ! Dan, rakyat yang harus memulai gerakan perubahan. Tonggak perubahan wajib dicanangkan. Mindset, mental, perilaku, nyali, harga diri dan yang paling utama kualitas moral mesti di restorasi pada posisi yang tepat dan adiluhung.

Jika tidak, maka biarkan hancur sehancur-hancurnya sampai pengadilan Tuhan hadir memutuskan.

Semua kembali pada pilihan. Memilih kejayaan atau keruntuhan ?

*Penulis adalah warga di Kelurahan Tanamodindi – Palu