JALAFILES, Palu – Sehari selepas gubernur dan wakil gubernur Sulteng Anwar Hafid dan Reny Lamadjido hadir di Palu pada Minggu (2/3/2025) pagi, pesawat yang membawa walikota serta wakil walikota Palu Hadianto Rasyid dan Imelda Liliana Muhidin menyusul tiba di bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu, Senin (3/3/2025) pagi.
Seperti halnya Anwar dan Reny disambut hangat oleh jajaran pemerintah provinsi Sulteng, kedatangan Hadianto dan Imelda juga disambut gembira oleh jajaran pemerintah Kota Palu. Seremoni penyambutan dilakukan secara sederhana, disertai sedikit prosesi adat.
Tampak hangat menyambut Sekretaris Kota, para Asisten, sejumlah Kepala Dinas dan Badan, sejawat di Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) kota Palu, serta para tetua Lembaga Adat.
Bertempat di ruang walikota Kantor Walikota Palu jalan Balaikota, dalam sambutannya Hadianto menyampaikan terimakasih kepada masyarakat Palu yang masih memberikan kepercayaan padanya dan Imelda untuk mengelola pemerintahan di daerah ini selama 5 tahun mendatang.
Pasca dilantik presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025 dan menjalani masa retret 21 – 28 Februari 2025 di Magelang, Hadianto dan Imelda siap untuk menjalankan tugas.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun sinergi yang baik, kompak dan saling mendukung dalam upaya membangun dan memajukan kota Palu.
“Saya mengajak seluruh masyarakat kota Palu, bahwa kota ini bisa tumbuh dengan baik, bisa tumbuh dengan pesat bila semua ikut terlibat (bersinergi),” ujar Hadi.
Menukil sebuah ayat dalam Al Qur’an, Hadianto mengingatkan, perubahan ke arah yang lebih baik hanya bisa dirasakan bila ada kemauan dan usaha bersama, bukan semata bersandar pada takdir.
“Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum melainkan mereka sendiri yang harus dan mampu berubah. Ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dilakukan bila seluruh kita mau dan membangun sinergitas dengan baik,” imbuhnya.
Dikesempatan itu juga ia menyinggung soal efisiensi anggaran serta efektivitas 3 hari kerja yang merupakan kebijakan pemerintahan presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi tantangan berat untuk pemerintahannya dalam 5 tahun. Namun, hal itu tidak menjadi alasan mengendorkan semangat.
Baginya, efisiensi atau pengetatan anggaran tidak dipandang sebagai kebijakan yang keliru, apalagi merugikan. Lahirnya kebijakan tersebut, ungkapnya, tentu telah mempertimbangkan berbagai aspek secara lebih luas dan global.
Meski di satu sisi mengakui bahwa penerapan waktu 3 hari kerja bisa berdampak pada pencapaian target pelaksanaan program, akan tetapi Hadianto menilai kendala itu justru dapat merangsang lahirnya kreativitas dan improvisasi dalam bekerja bagi aparatur daerah, sehingga memicu skala kemampuan dan kompetensi. Karenanya, ia meminta jajaran pemerintah kota Palu, yang dikomandoi oleh Sekda Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, bisa merancang dan merumuskan program-program prioritas berdasarkan pada pola kebijakan efisiensi dan efektivitas.
Senada yang disampaikan Hadianto, ketua DPRD Kota Palu Rico Djanggola menyebut pentingnya kekompakan semua elemen dalam upaya mendukung pembangunan di kota Palu.
Dikatakan Rico, perhelatan demokrasi pilkada telah berakhir dan karenanya, bersama kepala daerah terpilih, DPRD Kota Palu akan bersinergi, turut merumuskan dan mendukung program-program yang bisa membawa kemaslahatan untuk masyarakat.
Rico mengajak seluruh komponen agar meninggalkan perbedaan yang ada selama pilkada berlangsung dan saatnya bersama mengawasi serta ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan di kota Palu. (Fad)
















