Oleh Saifudin Zuhri*)
Secara istilah “jenaka” bermakna lucu, kocak, menggelikan, atau membangkitkan tawa. Jenaka merupakan respon terhadap sebuah situasi atau struktur determinan yang diekspresikan dalam bentuk perkataan, metafor, sikap, dan perilaku tertentu yang bersifat humoris, katarsis, dan karitatif.
Ya, itulah strategi budaya kas bangsa ini ketika menghadapi kekuatan eksternal yang dalam kalkulasi matematis lebih kuat dan mendominasi. Strategi itu bukan muncul tiba-tiba tapi terbentuk dari realitas hidup berdampingan dengan alam yang menjadi sumber kehidupannya dan pengalaman sejarah bangsa ini berdialektika dengan nilai-nilai baru yang mencoba ditawarkan.
Kejenakaan bukan hanya strategi bagaimana bangsa ini mempertahankan identitasnya namun menjadi model bagaimana mematikan lawan secara diam-diam dengan cara yang membingungkan. Dalam lanskap sejarah bangsa ini datang berbagai peradaban besar yang mencoba menaklukkannya namun berujung penawaran ulang yang sulit dipetakan.
Lihatlah dalam lakon pewayangan bagaimana kisah Mahabharata dan Ramayana yang begitu disucikan pakemnya di India tiba-tiba disisipi epik gelak tawa “goro-goro” dengan tokoh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Demikian halnya ajaran Hindu yang lekat dengan sistem kasta di India menjelma dalam warna khas Hindu Bali yang signifikan berbeda.
Islam yang mendakwahkan hukum syar’i yang begitu ketat dengan klaim otoritas ilahi, pada akhirnya ditawar ulang menjadi lebih membumi. Karena itu, segarang apapun para makelar agama itu berkoar-koar melalui toa yang membahana tetaplah mayoritas Islam versi pribumi yang lebih mendominasi.
Itulah kemudian muncul Islam Jawa, Islam Sunda, Islam Parmalim, Islam Sasak, dll (atau generalnya Islam KTP atau abangan sebagai jumlah mayoritas) yang bukan hanya data varian namun sebuah jenis penafsiran ulang yang lebih establish dengan nuansa nusantara.
Kolonialisme yang dengan jumawa menawarkan konsep negara republik yang bersifat modern dan rasional, namun pada akhirnya direstorasi dan dimodifikasi dengan budaya lokal dan sistem keyakinan yang ada.
Tawaran konsep negara modern itu memang dalam beberapa aspek diadopsi dan diakomodasi dalam sistem ketatanegaraan, seperti sistem demokrasi, hukum positif, dll, namun dalam implementasinya penuh dinamika dan warna.
Demikian halnya di era sekarang ini, rakyat niteni bagaimana politisi menelikung demokrasi, konstitusi diakali, birokrasi menjadi sarang korupsi, represi, dan masih banyak lagi. Apakah rakyat langsung spontan berontak atau revolusi? Oh tentu tidak, bangsa ini cukup lihai bagaimana menghadapi situasi. Proses sosial akan mengkonsolidasi dan adaptasi.
Potretlah bagaimana ekspresi wajah masyarakat di ruang-ruang publik yang tetap saja senyum bahkan tertawa terbahak-bahak seakan membiarkan itu semua, namun diam-diam menunggu momentum untuk menunjukkan kekuatannya sebagai pemegang kedaulatan.
Di era teknologi yang serba terdigitalisasi seakan setiap lekuk kehidupan bangsa ini terdeterminasi dan terkooptasi oleh kontrol berbagai platform digital.
Memang di tengah uforia itu, terutama generasi terkini gegap gempita menyelimuti dunia maya anak muda yang seakan tak berdaya. Apakah ini pertanda bahwa bangsa ini telah mengibarkan bendera putih tanda kepasrahan? Belum tentu.
Kekhawatiran dan tuduhan bahwa generasi di era media digital sekarang ini tidak patriotis dan diragukan rasa nasionalisme tidak sepenuhnya terbukti. Lihatlah fenomena terbaru bagaimana netizen +62 (sebutan untuk warga net Indonesia) yang begitu heroik membela harga diri bangsanya ketika direndahkan di media sosial. Kejenakaan itu muncul bukan hanya sebagai strategi namun bisa menjadi energi mempertahankan harga diri bangsa dan pengukuhan identitas.
Simaklah bagaimana kasus perseteruan di jagat maya yang akhirnya berimplikasi dalam realitas nyata antara K-Netz (sebutan untuk Korean Netizens) dan netizen Indonesia yang memobilisasi warga net di kawasan Asia Tenggara dalam platform bernama SEAblings (gabungan dari SEA atau South East Asia dan Siblings). Dalam fenomena itu tergambar bagaimana habitat bangsa ini melawan siapapun bukan dengan cara-cara konvensional.
Dalam perseteruan itu K-Netz yang merendahkan martabat bangsa ini dengan isu rasisme bukan dengan strategi asimetris. K-Netz yang notabene adalah negara maju, sejahtera, dan literasi digitalnya lebih tinggi mendapat perlawanan dengan pola yang tidak biasa.
Dalam percakapan di berbagai media sosial K-Netz yang begitu serius dan agresif menyerang warga net Indonesia ditanggapi dengan kejenakaan yang membingungkan lawan. Serangan hate speech K-Netz yang rasis dan merendahkan itu direspon dengan santai, ignoren dan bahkan dijadikan bahan gurauan yang seakan-akan tak tersinggung.
Namun di balik respon kejenakaan itu jangan tanya bagaimana dampaknya. Industri K-Pop runtuh, tiket konser group-group band asal Korea yang biasanya laris manis tiba-tiba di-refund calon penontonnya, kunjungan ke obyek-obyek wisata di Korea menurun signifikan, dll. Tidak berhenti disitu aksi solidaritas yang digalang netizen +62 ini bahkan secara massif menyebar ke seluruh belahan dunia.
Kasus terbaru lainnya adalah konten di media sosial penerima beasiswa LPDP yang bernama Dwi Sasetyaningtyas (sering disapa Tyas) yang bersuami Arya Pamungkas Iwantoro. Konten tersebut bernada merendahkan status WNI dan justru membanggakan anaknya yang mendapat status kewarganegaraan Inggris tempat mereka menimba ilmu dengan dana LPDP itu.
Tak pelak, ujaran itu seketika dirujak oleh oleh warga net Indonesia. Generasi muda Netizen +62 yang selama ini diragukan rasa patriotisme dan nasionalisme tiba-tiba menjadi garda terdepan membela harga diri tanah airnya. Bak disiram bensin, jari-jari lincah Gen-Z itu menguliti rekam jejak mereka di dunia maya dan menjadi bahan kejenakaan.
Itulah negeri ria jenaka yang selalu saja ada cara bagaimana menghadapi tekanan dan kegetiran hidup. Memang terkesan naif dan insecure, tapi justru itulah resiliensi bangsa ini yang membuat siapapun yang hendak menekan sulit menyimpulkan habitat macam apa ini.
*) Dosen dan peneliti media, tinggal di Yogyakarta
















